Perjalanan Panjang Menuju Kesadaran: Sebuah Kisah Hati, Pikiran, dan Cahaya Dari Allah
Perjalanan Panjang Menuju Kesadaran: Sebuah Kisah Hati, Pikiran, dan Cahaya Dari Allah
Setiap manusia memiliki perjalanan spiritualnya masing-masing. Ada yang menemukan ketenangan sejak kecil, ada yang mendapatkannya di tengah badai hidup, dan ada pula yang baru merasakannya setelah melewati banyak pencarian panjang.
Perjalanan saya menuju kesadaran bukanlah proses yang singkat. Ia seperti sungai panjang yang mengalir dari masa kecil, melewati lembah-lembah pencarian, lalu akhirnya menemukan samudera ketenangan yang selama ini saya cari.
Awal Kehidupan: Tumbuh Dalam Kasih Sayang Dua Orang Tua yang Lembut
Saya lahir pada 11 Februari 1985. Saya tumbuh dalam rumah yang sederhana namun kaya kasih sayang. Ayah dan ibu saya bukan orang tua yang keras, bukan pula yang suka memaksa. Mereka lembut, sabar, dan mendidik kami dengan penuh cinta.
Rumah kami sederhana. Tidak terlalu memikirkan pakaian yang bagus atau perabot rumah yang mewah. Namun satu hal yang ayah jadikan sebagai harga mati: pendidikan adalah nomor satu.
Ayah rela melakukan apa saja agar enam anaknya bisa sekolah dengan baik. Dari enam saudara—tiga kandung dan tiga sebapak—lima di antaranya berhasil meraih gelar sarjana. Saya dan kakak laki-laki bahkan melanjutkan hingga magister. Sebagian besar kakak saya menjadi guru SMP dan SMA. Yang bungsu sempat kuliah, namun karena sakit ia berhenti, dan akhirnya mengambil pendidikan keterampilan komputer (D1).
Ayah dan ibu tidak pernah memaksa kami belajar. Tidak pernah marah ketika kami salah. Mereka hanya memberi teladan—dan dari teladan itu kami belajar.
Tanpa disuruh, kami belajar sendiri.
Tanpa diperintah, saya membantu orang tua.
Tanpa paksaan, kami tumbuh dengan kemauan kuat.
Mungkin inilah kenapa sejak SD hingga SMP, kami selalu juara kelas. Bukan karena dipaksa belajar, tetapi karena kami mencintai proses belajar itu sendiri.
Kesadaran Masa Kecil: Ada, Tetapi Belum Dipahami
Sejujurnya, saya menyadari bahwa sejak kecil—bahkan hingga usia 50 tahun—sebenarnya saya sudah punya kesadaran. Saya sering merenung, berpikir, dan memperhatikan kehidupan. Tetapi saya belum tahu apa sebenarnya hakikat kesadaran itu.
Saya membaca banyak buku tentang akal, pikiran, dan jiwa. Apa pun buku yang saya temukan, selalu saya baca. Tapi saya hanya tahu—belum paham.
Ibadah saya, termasuk shalat, tumbuh dari kesadaran sendiri. Bukan paksaan orang tua. Mereka hanya memberi contoh, dan kami mengikuti.
Di masa SMP, rasa ingin tahu saya tentang kehidupan semakin kuat. Saya sering bertanya kepada orang-orang tua tentang hal mistik, hikmah, dan perjalanan spiritual. Hati saya lembut, tetapi saya belum mengerti bagaimana menyelaraskan tubuh, pikiran, dan rasa.
Pencarian Ilmu: Dari Buku ke Buku, Dari Guru ke Guru
Saya dulu pemalu. Dari SD sampai SMA sifat itu melekat dalam diri saya. Tetapi setelah SMA, saya mulai berani membuka diri pada ilmu yang lebih dalam. Saya membaca buku-buku motivasi dan filsafat:
-
Berpikir dan Berjiwa Besar
-
Berpikir Menjadi Kaya
-
Berpikir Dinamis
-
Don’t Be Sad
-
Buku kepemimpinan
-
Buku-buku pengembangan diri
-
Buku-buku agama yang memperluas pola pikir
Ketika YouTube hadir, pencarian saya semakin luas. Saya menghabiskan bertahun-tahun menonton ribuan video tentang:
-
filsafat,
-
pembersihan jiwa,
-
psikologi,
-
motivasi hidup,
-
dan cara mencapai kekayaan secara spiritual.
Di antara yang paling membekas adalah ceramah dan nasihat dari:
Ust. Irvan DS, Ust. Yusran Anshar, Ust. Zaid Abdussamad (tazkiyatunnufus), Ust. Adi Hidayat, Aa Gym, Buya Syakur, Saeful Karim, Ust. Halid Basalamah, Buya Arrazy, Ust. Quraish Shihab, Ust. Yusuf Mansur, dan banyak lainnya.
Saya menyerap semuanya.
Tetapi tetap saja… ada yang kosong di dalam diri.
Pintu Baru Terbuka: Tahun 2025 dan Kesadaran Sejati
Menjelang tahun 2025, perjalanan batin saya memasuki fase baru. Saya mulai menemukan guru-guru yang mengajarkan bukan hanya ilmu, tetapi kesadaran diri. Pelajaran tentang bagaimana pikiran bekerja, bagaimana tubuh merespons, bagaimana rasa dan batin berinteraksi.
Saya mendalami materi dari:
-
Teh Febi
-
Pak Wayang
-
Riko Hutama
-
Saeful Karim (lagi)
-
Buya Arrazy
-
dan yang paling mengubah alur hidup saya: Ngaji Roso
Dari sinilah saya mulai melihat dengan jernih apa yang selama ini saya cari.
Ternyata selama ini saya mengejar ilmu, mengejar motivasi, mengejar kaya, mengejar perubahan…
tetapi saya belum mengenal diri sendiri.
Kesadaran sejati bukan di luar—tetapi di dalam.
Bukan pada siapa yang kita dengar—tetapi pada siapa yang hadir di dalam diri kita.
Dan ketika tubuh, pikiran, dan rasa bertemu dalam satu titik harmoni…
di sanalah kesadaran itu lahir.
Penutup: Kesadaran Ini adalah Karunia Allah
Perjalanan panjang saya bukanlah kebetulan.
Allah menuntun saya dari masa kecil penuh kasih sayang, lewat buku-buku motivasi, guru-guru besar, hingga akhirnya menemukan cahaya kesadaran batin di tahun 2025.
Kesadaran ini membuat saya mengerti makna firman Allah:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran Kami) di segenap penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.”
(QS. Fussilat: 53)
Dan juga sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Pencarian saya belum selesai.
Tetapi kini saya berjalan dengan hati yang lebih lembut, pikiran yang lebih jernih, dan tubuh yang lebih tenang.
Kesadaran ini adalah hadiah terbesar dalam hidup saya.
Komentar
Posting Komentar