Perjalanan Panjang Menuju Kesadaran: Kisah Bangkitnya Jiwa Setelah 50 Tahun Mencari

Perjalanan Panjang Menuju Kesadaran: Kisah Bangkitnya Jiwa Setelah 50 Tahun Mencari

Cp. 085397277984 an Amran. Hidup saya seperti aliran sungai panjang—berliku, melewati batu-batu besar, kadang tenang, kadang gelap. Tetapi semuanya ternyata membawa saya menuju satu titik: kesadaran.

Perjalanan ini tidak singkat.
Butuh hampir lima puluh tahun sebelum saya benar-benar mengerti apa itu ketenangan, apa itu diri, dan apa itu hadir dalam hidup.


Tumbuh Dalam Kasih Sayang Dua Orang Tua yang Lembut

Saya lahir pada 11 Februari 1974 disebuah desa di Bone Sulawesi Selatan Desa Itu bernama Desa Langi Kecamatan Bontocani, tumbuh dalam keluarga sederhana tetapi penuh cinta. Ayah dan ibu saya lembut—mendidik tanpa suara keras, tanpa memarahi, tanpa memaksa. Ayah tidak mementingkan rumah yang bagus atau penampilan, tetapi ia menjadikan pendidikan sebagai prioritas tertinggi.

Dari enam bersaudara, lima meraih gelar sarjana dan dua meraih magister. Tetapi semua itu tidak membuat hidup kami mudah. Kami tetap tumbuh sederhana, tumbuh dengan keikhlasan.

Sejak kecil saya suka belajar, suka berpikir, suka merenung. Namun semua itu hanya membuat saya tahu, belum membuat saya paham.


Puluhan Tahun Mencari Ilmu, Tetapi Jiwa Tetap Kosong

Selama 50 tahun hidup saya, saya membaca banyak buku:

  • buku akal dan pikiran

  • buku motivasi

  • buku pengembangan diri

  • buku filsafat

  • ceramah agama dari banyak ustaz dan guru besar

  • ribuan video YouTube tentang kekayaan, motivasi, dan spiritual

Saya serap semuanya.

Tetapi anehnya… jiwa saya tetap kering.

Semakin banyak ilmu saya kumpulkan, semakin saya gelisah.
Semakin saya berusaha menjadi kaya, semakin hidup saya terhimpit.
Semakin banyak saya berpikir, semakin tubuh saya bergetar ketakutan.

Saya merasakan:

  • gelisah setiap hari,

  • pikiran kacau,

  • tubuh sering bergetar dan lelah,

  • hati seperti menjerit,

  • tidur tidak tenang,

  • rasa takut tanpa sebab.

  • Saya tidak peduli dengan anak dan istri

  • Saya muda tersinggung

  • Saya merasa hidup sendiri dan tidak ada keluarga yang perhatikan saya

  • Saya hidup penuh duka, kemelaratan dan hanya bertahan hidup

  • hari hari saya lalui dengan tekanan mental

  • kebanyakan keluarga menyepelehkan saya

  • saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah

  • terkadang saya tidur di mesjid dan nanti pulang ke rumah setelah malam hanya menunjukkan bahwa saya sudah kerja tetapi hanyalah melarikan diri supaya tidak dianggap pengangguran 

  • Dan masih banyak lagi .... dan ...

Saya pikir saya sedang menuju kesuksesan.
Ternyata saya semakin jauh dari diri saya sendiri.


Hidup Semakin Sulit: Hutang, Ekonomi, dan Putus Asa

Beberapa tahun terakhir sebelum saya mendapatkan kesadaran adalah tahun terberat dalam hidup saya.

Saya:

  • terlilit hutang,

  • tidak mampu membayar sekolah anak-anak,

  • kontrakan rumah hampir habis,

  • pekerjaan tidak menghasilkan,

  • harga diri di titik terendah,

  • tubuh saya lelah luar biasa,

  • mental saya hampir hancur.

Saya sudah berusaha mati-matian.
Saya sudah mengorbankan tubuh saya.
Saya berjalan ke sana kemari mencari rezeki, tetapi tidak ada yang datang.

Saya bahkan sudah keliling meminta bantuan kepada beberapa orang, tetapi tidak ada pertolongan.

Hingga akhirnya…

Saya menyerah.


Malam Itu: Allah Menggenggam Saya Dengan Cara yang Tak Pernah Saya Lupakan

Suatu malam, entah kenapa, saya menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba kenangan masa lalu muncul seperti film yang diputar cepat.
Saya melihat betapa bodohnya saya selama ini.
Ternyata yang salah adalah saya sendiri—cara pikir saya, cara merasa saya, cara hidup saya.

Di saat tangisan itu memuncak, tiba-tiba…

Seperti ada angin berhembus keras masuk ke tubuh saya.
Tubuh saya terasa terkunci.
Saya tidak bisa bergerak.
Seperti ada sesuatu yang menggenggam seluruh tubuh saya.

Saya mencoba melawan, dan saya membaca Ayat Kursi.

Tiba-tiba tubuh saya terlepas.
Napas saya kembali.

Beberapa menit kemudian kejadian itu terulang lagi.
Dan lagi-lagi saya membaca Ayat Kursi—dan saya terbebas.

Malam itu seperti pintu besar dari langit terbuka.
Bukan mimpi.
Bukan halusinasi.
Bukan mistik.
Itu kenyataan, dan saya merasakannya dengan sadar penuh.

Dan sejak malam itu…

Allah mulai menuntun saya.
Satu demi satu pintu hati saya terbuka.
Tubuh saya mulai tenang.
Pikiran saya mulai jernih.
Rasa saya mulai peka.
Dan perjalanan batin saya berjalan ke arah yang sama sekali belum pernah saya rasakan.


Cahaya Kesadaran: Saat Akhirnya Saya Menemukan Diri Saya Sendiri

Melalui berbagai guru—Teh Febi, Pak Wayang, Saeful Karim, Riko Hutama, Buya Arrazy, dan terutama Ngaji Roso—dan beberapa guru fisik yang saya jadikan teladang diantaranya ust. Said Abdul samad dan Ustaz Yusran Ansar dan murabbi yang paling berkesan adalah ust. Irvan dan Ust. Qosim. Dari situ muncul inspirasi  menjadikan Allah menyusun ulang diri saya. 

Tubuh saya kembali selaras.
Pikiran saya kembali patuh.
Hati saya kembali lembut.
Dan rasa saya kembali hidup.

Saya menjadi tenang.
Saya menjadi hadir dalam hidup.
Saya menjadi sadar diri.

Dan di saat itulah saya memahami firman Allah:

“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum,
hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’d: 11)

Dan saya memahami sabda Nabi ﷺ:

“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Kesadaran ini adalah hadiah terbesar sepanjang hidup saya.
Perjalanan 50 tahun ini bukan sia-sia.
Semua rasa sakit, semua tangisan, semua kelelahan—semua itu adalah jalan menuju cahaya.

Dan hari ini, saya menulis kisah ini bukan untuk membanggakan diri, tetapi sebagai saksi bahwa:

Allah itu dekat.
Allah itu Maha Lembut.
Allah itu Maha Membolak-balikkan hati.
Dan Allah memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki.

Komentar

Postingan Populer