Refleksi Singkat: Belajar Melihat ke Dalam Diri
Refleksi Singkat: Belajar Melihat ke Dalam Diri
Dulu, tanpa sadar, saya lebih sering melihat ke luar:
melihat orang lain, keadaan, lingkungan, bahkan menyalahkan setan dan situasi.
Ketika ada masalah, fokus saya adalah “apa penyebab di luar sana”.
Saya berzikir, berdoa, dan beribadah — dan itu tetap bernilai ibadah.
Tetapi jujur, saat itu saya jarang memperhatikan apa yang sedang terjadi di dalam diri:
pikiran, perasaan, dan kecenderungan hati.
Pelan-pelan saya menyadari satu hal sederhana:
banyak reaksi saya bukan karena orang lain, tapi karena pikiran dan perasaan saya sendiri yang bekerja otomatis.
Ketika mulai belajar menghadirkan hati — berhenti sejenak, tidak buru-buru bereaksi —
zikir terasa lebih tenang, doa terasa lebih ikhlas, dan ibadah terasa lebih ringan.
Masalah tetap ada, manusia tetap beragam, tapi hati tidak lagi mudah terguncang.
Saya juga belajar bahwa:
Kesadaran batin bukan berarti merasa paling benar
Bukan pula berhenti menilai baik dan buruk
Tetapi lebih kepada jujur melihat diri sendiri sebelum menilai yang lain
Kini saya memahami:
jika batin lebih tenang dan jujur, kita bisa melihat keadaan luar dengan lebih adil.
Bukan untuk menghakimi, tapi untuk bersikap lebih bijak.
Semua ini bukan karena kehebatan pribadi,
melainkan proses belajar dan izin Allah semata.
Dan perjalanan memperbaiki diri ini masih terus berjalan.
Komentar
Posting Komentar