Tentang doa, Tenang dan Menyerahkan hasil
Percakapan Pagi: Tentang Doa, Tenang, dan Menyerahkan Hasil
Pagi ini hujan turun pelan.
Setelah sholat, saya duduk sejenak dan merenung.
Saya bertanya pada diri sendiri:
“Bagaimana sebenarnya cara berdoa yang benar?”
Dulu, setiap kali berdoa, saya sering:
berharap sesuatu dengan kuat
tapi di dalam hati ada cemas
takut doa tidak dikabulkan
merasa belum pantas meminta yang besar
Saya berdoa, tapi hati masih gelisah.
Hari ini terasa berbeda
Pagi ini, saat berdoa, saya mengucapkannya dengan pelan dan sederhana:
“Ya Allah, tunjukkan jalan yang harus saya tempuh.
Saya berusaha semampu saya,
dan saya serahkan hasilnya sepenuhnya kepada-Mu.”
Setelah itu, hati terasa ringan.
Tidak ada desakan, tidak ada kecemasan.
Saya tidak tahu kapan doa itu akan dikabulkan,
tapi saya yakin Allah sudah mendengarnya.
Dan keyakinan itu membuat hati tenang.
Saya belajar satu hal penting
Ternyata, doa bukan soal memaksa hasil,
tetapi menjalankan peran sebagai hamba.
Tugas saya:
berdoa dengan jujur
berusaha dengan sungguh-sungguh
lalu menyerahkan semuanya kepada Allah
Tugas Allah:
menentukan waktu
menentukan cara
menentukan bentuk terbaik
Dan itu sudah cukup.
Tentang berharap dan pasrah
Saya belajar bahwa:
berharap itu boleh
meminta itu dianjurkan
yakin itu penting
Yang perlu dilepas hanyalah rasa cemas dan ingin mengatur hasil.
Karena saat hati sudah menyerahkan,
doa berubah dari beban menjadi ibadah.
Penutup pagi ini
Saya tidak merasa lebih baik dari siapa pun.
Saya hanya belajar untuk lebih jujur pada diri sendiri.
Jika hari ini doa belum terwujud, saya tetap bersyukur.
Jika nanti terwujud, saya juga bersyukur.
Karena saya percaya:
Allah selalu menjawab doa,
hanya saja dengan cara dan waktu yang Dia pilih.
Semoga pagi ini menjadi awal hari yang lebih tenang,
apa pun yang akan terjadi.
Komentar
Posting Komentar