Ketika Manusia Menunda Akhirat

Ketika Manusia Menunda Akhirat

Pelajaran Nafs dari Percakapan dengan Seorang Pelaut

Suatu hari saya bertemu dengan seorang konsumen yang ingin membuat kacamata. Ia seorang pelaut. Karakternya keras, tegas, dan berbicara dengan gaya yang lugas tanpa banyak basa-basi. Dari raut wajahnya terlihat bahwa ia adalah orang yang terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan.

Anehnya, walaupun kami baru saja bertemu, ia mulai bercerita banyak hal tentang kehidupan pribadinya. Tentang keluarganya, tentang tekanan hidup, dan tentang rencana masa depannya. Saya hanya mendengarkan dengan tenang. Kadang manusia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi.

Di tengah ceritanya, ia mengatakan sebuah hal yang membuat saya merenung lama.

Ia berkata bahwa sekarang ia ingin fokus mengejar dunia. Ia bekerja keras sebagai pelaut, menabung, dan sedang membangun rumah yang besar untuk masa tuanya. Ketika pensiun nanti, ia ingin membuka warung makan di lantai satu rumahnya.

Lalu ia berkata dengan penuh keyakinan:

“Sekarang saya fokus dunia dulu. Nanti kalau sudah tua baru fokus ibadah.”

Kalimat ini sebenarnya sangat sering kita dengar dalam kehidupan.

Niat yang baik, tetapi ditunda

Yang menarik, ia sebenarnya sadar bahwa kehidupan dunia tidak kekal. Ia bahkan berkata bahwa suatu saat ia ingin benar-benar fokus untuk akhirat.

Artinya, hatinya sebenarnya masih mengetahui kebenaran.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.”

— Al-Qur'an (Al-Qiyamah:14)

Manusia sebenarnya tahu mana yang benar dan mana yang keliru. Tetapi sering kali pengetahuan itu kalah oleh dorongan nafs, ambisi, dan keinginan dunia.

Dalam ilmu tasawuf, keadaan seperti ini sering disebut sebagai tulul amal, yaitu angan-angan panjang tentang masa depan.

Nafs berkata:

nanti saja

nanti kalau sudah kaya

nanti kalau sudah pensiun

nanti kalau sudah tua

Padahal kematian tidak pernah menunggu kesiapan manusia.

Nasihat yang hanya sempat disampaikan sebentar

Sebelum saya berpamitan, saya hanya menyampaikan satu kalimat sederhana.

Saya berkata dengan hati-hati:

“Bagus itu pak rencananya. Tapi mungkin lebih baik kalau mulai sekarang juga dijalankan ibadah wajib. Karena umur kita tidak tahu kapan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.”

Ia mendengarkan dengan tenang.

Lalu ia menjawab dengan jujur:

“Saya sadar itu. Tapi prinsip saya, sekarang fokus dulu. Nanti kalau Allah izinkan sampai tua, baru saya fokus ke akhirat.”

Jawaban itu menunjukkan sesuatu yang menarik.

Ia sadar, tetapi belum mau berubah.

Pelajaran tentang nafs manusia

Pertemuan singkat itu justru memberi pelajaran tentang keadaan nafs manusia.

Kadang manusia tidak menolak kebenaran.

Ia hanya menundanya.

Padahal Rasulullah pernah mengingatkan:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”

Hadits ini seakan mengingatkan bahwa kehidupan tidak berjalan sesuai rencana manusia.

Ada yang berniat taubat ketika tua, tetapi tidak pernah sampai kepada usia tua itu.

Ada yang ingin memperbaiki diri setelah urusan dunia selesai, tetapi dunia ternyata tidak pernah selesai.

Cermin untuk diri sendiri

Setelah pertemuan itu saya justru lebih banyak merenung tentang diri sendiri.

Bukankah sering kali nafs kita juga berkata hal yang sama, hanya dalam bentuk yang berbeda?

Kadang kita berkata dalam hati:

nanti kalau usaha sudah stabil baru fokus ibadah

nanti kalau sudah banyak uang baru banyak sedekah

nanti kalau sudah tua baru memperbaiki diri

Padahal jalan yang lebih selamat adalah menjalankan dunia dan akhirat bersamaan.

Bekerja tetap dilakukan, tetapi hati tetap mengingat Allah.

Mungkin suatu hari ia akan mengingatnya

Saya tidak tahu apakah nasihat singkat itu akan berbekas atau tidak. Bisa jadi ia melupakannya begitu saja.

Namun sering kali satu kalimat sederhana dapat tersimpan lama di dalam hati seseorang.

Mungkin suatu hari ketika ia sendirian di kapal.

Mungkin ketika ia sakit.

Atau ketika ia menghadapi kesulitan hidup.

Kalimat sederhana itu mungkin akan muncul kembali di dalam ingatannya.

Karena hidayah bukan datang dari manusia.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”

— Al-Qur'an (Al-Qashash:56)

Penutup

Pertemuan dengan orang lain sering kali bukan hanya tentang urusan dunia. Kadang ia menjadi pelajaran tentang nafs manusia.

Ada orang yang keras, tetapi sebenarnya hatinya masih hidup.

Ada orang yang tahu kebenaran, tetapi masih menundanya.

Dan ada juga pertemuan singkat yang mungkin menjadi sebab seseorang suatu hari kembali kepada Allah.

Maka yang bisa kita lakukan hanyalah menyampaikan dengan lembut, menjaga adab, dan menyerahkan hidayah sepenuhnya kepada-Nya.

Karena pada akhirnya, yang sedang kita perbaiki sebenarnya bukan hanya orang lain.

Tetapi juga diri kita sendiri.

Komentar

Postingan Populer