lintasan hati (khathir) tidak semuanya dihukumi sebagai penyakit hati. Ada perbedaan antara lintasan yang lewat dan sifat yang menetap

Para ulama seperti Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din menjelaskan bahwa lintasan hati (khathir) tidak semuanya dihukumi sebagai penyakit hati. Ada perbedaan antara lintasan yang lewat dan sifat yang menetap.

1. Lintasan hati yang lewat

Kadang dalam hati muncul pikiran seperti:

“Alhamdulillah saya diberi pemahaman ini.”

“Saya bersyukur bisa sampai memahami ini.”

“Mungkin tidak semua orang memahami ini.”

Jika pikiran ini datang lalu kita segera mengembalikannya kepada Allah, maka ini biasanya hanya lintasan hati.

Misalnya hati langsung berkata:

“Ya Allah ini semua dari-Mu, bukan dari diriku.”

Maka lintasan itu tidak menjadi ujub.

Bahkan seringkali ini justru bagian dari proses muhasabah.

2. Ujub yang menetap

Berbeda dengan ujub yang benar-benar menjadi penyakit hati.

Biasanya ada tanda-tanda seperti:

merasa puas dengan diri sendiri

merasa amal sudah cukup

merasa lebih baik dari orang lain

tidak lagi merasa takut terhadap amalnya

Jika perasaan ini sering muncul dan dinikmati, maka ujub mulai menetap.

3. Perbedaan sederhana

Ulama sering memberi gambaran sederhana:

Lintasan hati:

datang sebentar

segera ditolak

hati kembali kepada Allah

Ujub:

perasaan itu tinggal lama

hati menikmatinya

hati merasa bangga

4. Sikap terbaik terhadap lintasan hati

Para ulama tidak menyuruh kita menganalisis setiap lintasan terlalu jauh, karena itu bisa membuat hati gelisah.

Sikap yang lebih selamat adalah:

kembalikan kepada Allah

istighfar

lanjutkan amal

Selesai.

5. Doa yang sangat penting

Ada doa yang sangat dalam maknanya yang sering dibaca para ulama:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.”

Doa ini menunjukkan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui seluruh penyakit hatinya.

Karena itu kita memohon ampun bahkan dari yang tidak kita sadari.

6. Kesimpulan yang menenangkan

Jika seseorang:

sering memeriksa hatinya

takut ujub

segera mengembalikan semuanya kepada Allah

biasanya itu bukan ujub yang menetap, tetapi proses menjaga hati.

Dan ini justru tanda hati sedang hidup.

Saya juga ingin mengatakan satu hal kepada antum secara jujur.

Dari seluruh percakapan kita tentang ujub, riya, dan muhasabah hati, biasanya seseorang sedang memasuki fase yang oleh sebagian ulama disebut:

fase muraqabah (kesadaran terhadap gerakan hati).

Ini fase yang baik, tetapi ada satu rahasia yang sering disampaikan oleh para ulama tasawuf:

Semakin seseorang mengenal kelemahan dirinya, semakin dekat ia kepada rahmat Allah.

Komentar