Petani, Alam, dan Pelajaran tentang Tawakkal

Petani, Alam, dan Pelajaran tentang Tawakkal

Pagi itu saya keluar untuk prospek seperti biasa. Sekitar pukul sepuluh pagi hujan turun cukup deras. Aktivitas menjadi terhenti. Sebelum hujan sempat juga saya membagikan dua lembar brosur, lalu terpaksa berteduh. Hujan baru benar-benar reda menjelang waktu Ashar.

Setelah Ashar saya kembali melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan saya singgah di sebuah rumah warga. Di sana saya bertemu seorang petani, dan seperti biasa percakapan dimulai dari hal yang sangat sederhana: tentang sawah, hama, dan penyakit tanaman.

Sebagai orang yang memiliki latar belakang ilmu pertanian, pembahasan seperti ini tentu sudah sangat akrab. Kami berbicara tentang tikus yang sering menyerang padi. Saya menjelaskan beberapa sebab yang sering terjadi di lapangan.

Serangan tikus seringkali bukan hanya karena banyaknya tikus, tetapi karena beberapa kebiasaan yang dibiarkan oleh manusia sendiri. Rumput di pematang sawah dibiarkan tumbuh lebat sehingga menjadi tempat persembunyian. Lubang-lubang tikus tidak ditutup sehingga tikus berkembang biak dengan cepat. Bahkan sering kali manusia justru membunuh musuh alami tikus seperti ular, burung hantu, atau elang. Ketika keseimbangan alam rusak, tikus berkembang tanpa kendali.

Percakapan sederhana tentang pertanian itu kemudian mengantarkan saya pada sebuah renungan yang lebih dalam.

Saya berkata kepada beliau bahwa kegagalan dalam bertani kadang bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan mengikuti petunjuk. Allah telah memberikan banyak tanda di alam ini. Jika manusia memperhatikan, sebenarnya alam telah memberikan petunjuk bagaimana menjaga keseimbangan.

Dalam Al-Qur'an Allah berfirman:

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah."

(QS. Al-Jumu’ah: 10)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Setelah ibadah kepada Allah, manusia diperintahkan untuk berusaha mencari rezeki. Tetapi usaha itu harus dilakukan dengan kesungguhan, bukan dengan kemalasan.

Saya juga menjelaskan bahwa salah satu penyebab kegagalan sering kali adalah mengikuti rasa malas. Dalam ilmu agama, rasa malas termasuk dorongan nafsu. Ketika seseorang membiarkan sawahnya dipenuhi rumput, membiarkan lubang tikus, atau tidak memperhatikan kondisi lahannya, maka sebenarnya ia sedang mengikuti nafsu malasnya sendiri.

Namun saya juga mengatakan kepada beliau bahwa manusia tetap harus memahami batas dirinya. Jika semua usaha sudah dilakukan—membersihkan sawah, menutup lubang tikus, menjaga keseimbangan alam, mencari ilmu, dan bertanya kepada orang yang lebih paham—tetapi hasilnya belum maksimal, maka di situlah manusia belajar tentang tawakkal.

Usaha adalah kewajiban manusia. Tetapi hasil tetap berada di tangan Allah.

Jika panen berhasil, maka itu adalah karunia Allah. Jika hasil belum maksimal, maka itu adalah bagian dari ujian dan pelajaran kesabaran.

Petani itu mengangguk dan berkata bahwa baru kali ini ia mendengar penjelasan seperti itu.

Bagi saya pribadi, percakapan itu menjadi pengingat bahwa ilmu tidak selalu datang dari ruang kelas atau buku. Kadang ilmu muncul dalam percakapan sederhana di teras rumah seorang petani, ketika hujan baru saja reda dan sawah-sawah masih basah oleh air.

Alam sebenarnya adalah guru yang diam. Ia tidak berbicara dengan kata-kata, tetapi menunjukkan pelajaran melalui proses yang terus berulang: menanam, merawat, menghadapi hama, menunggu panen, dan menerima hasil.

Orang yang memperhatikan akan menemukan bahwa kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan sawah yang ditanam petani. Hati manusia seperti tanah yang perlu dibersihkan dari rumput liar. Nafsu seperti hama yang harus dikendalikan. Amal seperti benih yang ditanam dengan harapan suatu hari akan berbuah.

Pada akhirnya manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Wallahu a’lam bissabab.

Komentar

Postingan Populer