Sebuah Kisah yang Tidak Akan Saya Lupakan

Kami Pernah Membagi 1 Untuk 3

Sebuah Kisah yang Tidak Akan Saya Lupakan

Saya masih ingat masa itu.

Saat beras hampir habis,

yang tersisa hanya cukup untuk dibagi bertiga.

Kami makan… bukan sampai kenyang,

tapi sekadar agar bisa bertahan.

Untuk sahur, beras dibagi tiga.

Untuk berbuka, kadang hanya ketan—itu pun dibagi tiga.

Tidak ada pilihan.

Tidak ada cadangan.

Dan tidak ada kepastian untuk hari esok.

🌊 Saat Rumah Banjir dan Hati Diuji

Bukan hanya soal makanan.

Rumah kami pernah banjir.

Air masuk, keadaan tidak nyaman.

Uang tidak ada.

Di saat seperti itu, pikiran kemana-mana.

Tapi satu hal yang kami pegang:

Kami tetap bersama.

🌱 Bertahan dengan Apa Adanya

Kami tidak punya banyak.

Tapi kami mencoba untuk tetap:

sabar

saling menguatkan

dan tetap berjalan

Walaupun pelan.

Kadang hati sedih.

Kadang lelah.

Tapi kami tidak berhenti.

🌤️ Pertolongan Itu Datang

Perlahan, tanpa kami sangka:

Ada yang memberi beras

Ada rezeki datang

Ada jalan yang terbuka

Tidak langsung banyak.

Tapi cukup.

Dan dari situ kami mulai melihat:

Allah tidak meninggalkan kami.

🧭 Kenangan yang Membekas

Sampai hari ini, saya sering menceritakan kisah itu.

Bukan karena ingin mengulang kesedihan,

tapi karena saya tidak ingin lupa:

Kami pernah di titik itu.

Dan Allah yang mengangkat kami.

🤲 Pelajaran yang Saya Pegang

Dari semua itu, saya belajar:

Rezeki bukan hanya soal banyak atau sedikit

Tapi tentang bagaimana Allah mencukupkan

Dan saya percaya:

Siapa yang pernah merasakan sempit,

akan lebih menghargai lapang.

đŸĒļ Penutup

Hari ini mungkin keadaan sudah berbeda.

Tapi kenangan itu tetap hidup.

Sebagai pengingat bahwa:

Kami pernah tidak punya apa-apa,

tapi tetap dijaga oleh Allah.

Dan itu tidak akan pernah saya lupakan.

Wallahu a’lam bissawab.

Komentar

Postingan Populer